JAKARTA, POROS SULTRA – Program Sekolah Rakyat terus menjadi perhatian publik, terutama terkait kualitas pendidikan dan efektivitas program tersebut dalam membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dalam unggahan Sekretariat Kabinet RI menyebut, hingga Agustus 2026, lebih dari 43 ribu anak telah mengikuti pendidikan melalui Sekolah Rakyat. Anak-anak tersebut disebut sebelumnya tidak bersekolah, putus sekolah, dan sebagian menjalani keseharian di jalanan.
Pernyataan tersebut disampaikan Teddy sekaligus merespons anggapan yang mempertanyakan kualitas Sekolah Rakyat.
“Sekolah Rakyat tidak bermutu, kata siapa?” demikian pesan yang ditampilkan dalam unggahan pemerintah.
Menurut Teddy, Sekolah Rakyat tidak sekadar mengembalikan anak-anak ke bangku sekolah. Para siswa juga mendapatkan tempat tinggal, makanan, layanan kesehatan, pendidikan ilmu dan adab, serta fasilitas belajar.
Pemerintah juga menampilkan prestasi tujuh siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 Makassar sebagai salah satu capaian program.
Ketujuh siswa tersebut disebut berhasil meraih medali emas dan perak dalam sejumlah kompetisi, antara lain Olimpiade Nasional Indonesia (ONI) 15, Airlangga Competition 19, dan Kompetisi Sains Pelajar Dalton (KPSD) 2026.
Prestasi tersebut diraih dalam bidang Matematika, Biologi, Bahasa Indonesia, Sejarah dan Sosiologi.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan pemerintah untuk menunjukkan bahwa siswa Sekolah Rakyat memiliki peluang untuk berkembang dan berprestasi di bidang akademik.
Meski pemerintah menunjukkan sejumlah capaian positif, kritik terhadap Sekolah Rakyat tetap penting sebagai bagian dari pengawasan publik.
Keberhasilan program pendidikan tidak cukup hanya diukur dari jumlah siswa yang masuk sekolah atau prestasi beberapa peserta didik. Kualitas guru, kurikulum, fasilitas, metode pembelajaran, pemerataan kualitas antarsekolah, serta perkembangan seluruh peserta didik juga perlu menjadi ukuran.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa capaian yang ditampilkan bukan hanya menjadi keberhasilan pada tahap awal, tetapi dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Sebab, pertanyaan mengenai mutu Sekolah Rakyat seharusnya tidak dijawab hanya dengan angka jumlah peserta didik atau prestasi sejumlah siswa. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kualitas pendidikan tersebut terukur dan apakah program benar-benar mampu mengubah masa depan para siswanya.
Dengan demikian, perdebatan mengenai Sekolah Rakyat sebaiknya ditempatkan secara proporsional: capaian positif perlu diapresiasi, tetapi evaluasi dan kritik tetap diperlukan agar program pendidikan yang menggunakan sumber daya negara tersebut terus diperbaiki dan memenuhi standar pendidikan yang berkualitas.
Sumber: Sekretariat Kabinet RI














