Berita  

Belajar dari Malaysia, IAI Rawa Aopa Dorong Desa Wisata Berbasis Pokdarwis dan Koperasi di Konawe Selatan.

Kunjungan pelaku usaha Homestay Teluk Ketapang, Malaysia, ke Desa Pelandia menjadi momentum pertukaran pengalaman dalam membangun desa wisata berbasis masyarakat melalui sinergi perguruan tinggi, pemerintah desa, Pokdarwis, koperasi, BUMDes, dan UMKM.

banner 120x600

PELANDIA, KONAWE SELATAN– Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menginisiasi langkah strategis untuk mempercepat transformasi desa melalui pengembangan desa wisata berbasis masyarakat. Inisiatif tersebut diwujudkan dalam forum berbagi pengalaman yang digelar di rumah Kepala Desa Pelandia, Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan, Senin (20/7/2026), dengan menghadirkan Azmi Bin Mohd Azis, pemilik Homestay Teluk Ketapang yang dikelola dalam sistem koperasi berbadan hukum di Terengganu, Malaysia.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, dan pelaku usaha pariwisata dalam membangun model pengelolaan desa wisata yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui kelembagaan yang kuat dan berkelanjutan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Prof. Ismail Suardi Wekke, Ph.D., Sekretaris Camat Buke Eriyanto, S.Si., Kepala Desa Pelandia Ungge, dan perangkat desa.

Dalam pemaparannya, Azmi Bin Mohd Azis menjelaskan bahwa keberhasilan Homestay Teluk Ketapang tidak hanya ditentukan oleh kualitas pelayanan kepada wisatawan, tetapi juga oleh tata kelola yang melibatkan masyarakat melalui koperasi berbadan hukum. Sistem tersebut memungkinkan manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dinikmati secara lebih luas oleh masyarakat, sekaligus mendorong berkembangnya UMKM, kuliner lokal, serta pelestarian budaya dan lingkungan.

Model pengelolaan tersebut menjadi salah satu praktik baik yang diperkenalkan kepada Pemerintah Desa Pelandia dan Kecamatan Buke sebagai referensi dalam mengembangkan desa wisata yang berbasis partisipasi masyarakat dan memiliki kelembagaan ekonomi yang kuat.

Kolaborasi ini juga merupakan bagian dari komitmen IAI Rawa Aopa Konawe Selatan untuk mengintegrasikan potensi lokal desa dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat, penelitian, dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.

Dalam sesi diskusi, Sekretaris Camat Buke, Eriyanto, S.Si., mengajukan pertanyaan mengenai arah pengembangan desa wisata di Indonesia.

“Apakah pengembangan desa wisata tidak hanya dapat berfokus pada Pokdarwis, tetapi juga melibatkan kelembagaan lain yang mampu memperkuat ekonomi masyarakat desa?” tanyanya.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Prof. Ismail Suardi Wekke menjelaskan bahwa pengembangan desa wisata memerlukan sinergi berbagai kelembagaan. Dalam konteks Indonesia, Pokdarwis berperan menggerakkan aktivitas kepariwisataan di tingkat masyarakat, sedangkan koperasi menjadi instrumen penguatan ekonomi yang memastikan manfaat usaha dapat dikelola secara profesional. Sinergi keduanya, bersama pemerintah desa, BUMDes, UMKM, dan perguruan tinggi, menjadi fondasi penting dalam membangun desa wisata yang berkelanjutan.

Dalam kesempatan itu, Prof. Ismail Suardi Wekke, Ph.D., menegaskan pentingnya mengubah cara pandang terhadap pembangunan desa.

“Kita tidak bisa lagi melihat desa hanya sebagai objek pembangunan. Desa adalah subjek, penggerak utama ekonomi nasional. Kehadiran IAI Rawa Aopa di Kecamatan Buke, mempertemukan pemikiran akademis dengan energi lokal yang diwakili oleh Koperasi Homestay Teluk Ketapang, adalah komitmen kami untuk melahirkan episentrum pertumbuhan baru,” ujar Prof. Ismail Suardi Wekke.

Lebih lanjut, kerja sama tersebut diarahkan pada penguatan kapasitas aparatur desa melalui tata kelola administrasi modern dan literasi digital, pengembangan homestay berbasis komunitas, pemberdayaan UMKM, pengembangan ekonomi kreatif, hingga menjadikan desa-desa di Kecamatan Buke sebagai living laboratory bagi dosen dan mahasiswa dalam melaksanakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, Kepala Desa Pelandia, Ungge, menyambut baik kolaborasi yang dibangun bersama IAI Rawa Aopa dan mitra dari Malaysia. Menurutnya, pengalaman yang dibagikan menjadi inspirasi baru dalam mengembangkan potensi wisata yang dimiliki Desa Pelandia.

“Kami menyambut baik kerja sama ini karena memberikan wawasan baru mengenai pengelolaan desa wisata berbasis koperasi. Desa Pelandia memiliki potensi alam dan budaya yang dapat dikembangkan. Dengan dukungan IAI Rawa Aopa, pemerintah kecamatan, serta pengalaman dari Malaysia, kami optimistis desa wisata di Pelandia dapat berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Ungge.

Dalam forum tersebut, para peserta juga membahas peluang pengembangan potensi wisata di Desa Pelandia dan desa-desa lain di Kecamatan Buke. Pengalaman Homestay Teluk Ketapang dinilai dapat menjadi inspirasi dalam membangun tata kelola desa wisata yang melibatkan masyarakat secara aktif, sekaligus memperkuat sinergi antara Pokdarwis, koperasi, BUMDes, UMKM, dan pemerintah desa sebagai pilar utama pembangunan ekonomi lokal.

Melalui kolaborasi ini, IAI Rawa Aopa berharap praktik baik yang diterapkan di Teluk Ketapang dapat menjadi referensi dalam merancang model pengembangan desa wisata yang sesuai dengan karakteristik desa-desa di Konawe Selatan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkuat kelembagaan masyarakat, meningkatkan daya saing ekonomi lokal, sekaligus menjaga kelestarian budaya dan lingkungan.

Pertemuan di Desa Pelandia menjadi lebih dari sekadar forum berbagi pengalaman. Kegiatan ini menandai awal terbentuknya jejaring kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, pelaku usaha pariwisata, dan masyarakat dalam membangun desa wisata yang berdaya saing. Dengan memadukan peran Pokdarwis sebagai penggerak aktivitas wisata dan koperasi sebagai penguat kelembagaan ekonomi masyarakat, Konawe Selatan diharapkan mampu melahirkan desa-desa wisata yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Math Captcha
− 2 = 4